Menyingkap Pesona Gemulai dan Garangnya Atraksi Barongsai Kwan Long Say Jambi
SRTV-Suara tabuhan gimba dan simbal yang bertalu-talu membahana, mengiringi setiap lompatan lincah sesosok makhluk berwajah tegas namun jenaka. Bagi yang pertama kali melihatnya, benak kerap dipenuhi tanda tanya: apakah makhluk berwarna megah ini sesosok naga, ataukah seekor singa?
Kesenian yang berakar dari tradisi Tiongkok ini memang dikenal luas sebagai tarian singa. Dalam dunia Barongsai, tarian ini terbagi menjadi dua gaya utama, yaitu utara dan selatan. Singa utara tampil khas dengan surai ikal dan empat kaki yang mengaburkan keberadaan manusia di dalamnya. Sementara singa selatan tampil penuh dinamika, berpenampilan bersisik, memiliki tanduk di dahi, serta bergerak lincah dengan jumlah kaki yang kerap berganti antara dua hingga empat.
Dibalik keindahan kostumnya, atraksi Barongsai merupakan bentuk kesenian yang menuntut fisik ekstra. Setiap gerakannya memadukan keindahan seni tari, ketangguhan bela diri, hingga keberanian akrobatik yang bergantung pada olah gerak tubuh. Pemain di belakang memerlukan kecepatan, kekuatan, dan keseimbangan kaki yang prima, sementara pemain di depan mengandalkan kekuatan tangan untuk mengendalikan kepala Barongsai sekaligus mengangkat rekan setimnya. Seluruh koreografi yang mendebarkan ini bergerak harmonis mengikuti irama dan nada dari para pemain musik pendukung.
Di Kota Jambi, napas kebudayaan ini terus berdenyut hangat, salah satunya lewat kehadiran Sanggar Barongsai Kwan Long Say. Berdiri sejak 1 Maret 2025 di bawah naungan Jacky Wijaya, Jonathan Fernando Wijaya, dan Jackson Heri Wijaya, sanggar ini kini telah merangkul sekitar 25 anggota aktif dari berbagai kalangan generasi muda.
Guna menjaga ketangkasan dan keselarasan gerak, seluruh anggota disiplin mengasah kemampuan mereka secara rutin. "Setiap Senin malam kami berkumpul dan latihan bersama," ungkap Jacky.
Kini, Kwan Long Say tak hanya menyajikan kebolehan tarian Barongsai, tetapi juga melengkapi pertunjukannya dengan atraksi Naga (Liong) serta kehadiran maskot Cai Sen atau Dewa Rejeki yang senantiasa membawa kemeriahan bagi para penonton. Kehadiran mereka kerap menjadi pusat perhatian di berbagai tempat hiburan dan acara besar Kota Jambi, mulai dari unjuk kebolehan di kawasan wisata Kota Tua depan Duta Hotel, pusat keramaian Lapangan Korem, hingga beragam perayaan festival lokal.
Di balik riuhnya pertunjukan, ada makna mendalam yang diusung oleh kelompok ini. Nama Kwan Long Say dirangkai dari filosofi hidup yang kokoh: Kwan melambangkan sifat welas asih dan nilai-nilai kebaikan, Long mengacu pada naga yang megah, serta Say melambangkan keberanian sang singa. Lewat perpaduan nilai-nilai tersebut, Kwan Long Say tidak hanya sekadar menghibur masyarakat, tetapi juga terus merawat tradisi dan menyebarkan pesan kebaikan di bumi Sepucuk Jambi Lurah Sembilan.
Pimpinan Redaksi : Bambang Setiyawan, S.Pd.
Editor : Ivo
Penulis : Djohan Bae
Related Articles