Satu Bumi, Secangkir Toleransi: Dialog Lintas Agama di Jambi Rawat Persaudaraan dalam Keberagaman

Budaya 29 Aug 2026 14:25 4 min read 22 views By Johan

Share berita ini

Satu Bumi, Secangkir Toleransi: Dialog Lintas Agama di Jambi Rawat Persaudaraan dalam Keberagaman
SRTV Jambi-Ngopi Kerukunan yang digelar Bimbingan Masyarakat (Bimas) Katolik Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi di Paroki Santa Maria Ratu Rosario (SMRR), Kota Jambi, Sabtu (29/8/2026) berlangsung meriah dan sukses.

JAMBI-Perbedaan tidak selalu harus menjadi jarak. Di tengah keberagaman keyakinan, ada ruang yang dapat mempertemukan setiap orang dalam suasana penuh kehangatan, saling menghargai, dan persaudaraan.

Pesan itulah yang terasa dalam Ngopi Kerukunan yang digelar Bimbingan Masyarakat (Bimas) Katolik Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi di Paroki Santa Maria Ratu Rosario (SMRR), Kota Jambi, Sabtu (29/8/2026).

Kegiatan tersebut mempertemukan puluhan tokoh agama, pemuda lintas agama, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, serta Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI). Mereka hadir bukan untuk mencari perbedaan, melainkan untuk menemukan persamaan dan memperkuat tali persaudaraan di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk.

Sejumlah tokoh turut hadir, di antaranya Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jambi yang diwakili Dr. H. Abdurrahman, S.Ag., M.Pd.I., Romo Paroki Santa Maria Ratu Rosario Romo Romanus Edi Suryono, Pr., Ketua FKUB Provinsi Jambi Prof. Dr. H. M. Hasni Umar, MA., Ph.D., Ketua FKUB Kota Jambi yang diwakili C. Mujito, serta Pembimas Katolik Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jambi Theresia Ari Sukarni, S.Ag.

Jajaran pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota dan Provinsi Jambi juga hadir. Pertemuan tersebut menjadi gambaran sederhana bahwa kerukunan dapat tumbuh ketika masyarakat bersedia membuka ruang untuk berbicara dan mendengarkan satu sama lain.

Dialog membahas pentingnya menjaga harmoni antarumat beragama. Para pemateri berbagi pengalaman dan testimoni mengenai kehidupan dalam keberagaman di Indonesia. Perbedaan agama, tradisi, dan cara beribadah tidak dipandang sebagai penghalang untuk hidup berdampingan, melainkan sebagai bagian dari warna kehidupan bangsa.

Pesan tentang kerukunan juga diarahkan kepada generasi muda. Para peserta diajak melihat media sosial bukan hanya sebagai ruang berbagi informasi, tetapi juga sebagai sarana untuk menebarkan pesan-pesan kedamaian.

Di tengah derasnya arus informasi digital, media sosial dinilai memiliki peran strategis dalam membangun suasana yang sejuk. Konten yang mengedepankan toleransi, moderasi beragama, persaudaraan, dan penghargaan terhadap perbedaan diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menjaga persatuan bangsa.

Ketua DPP Santa Maria Ratu Rosario, Imi Tantyo Rosari, menilai kegiatan dialog lintas agama perlu terus dilakukan secara rutin.

“Saya menilai kegiatan seperti ini perlu terus diberdayakan dan dilakukan secara rutin agar dapat mencegah lahirnya potensi konflik antarumat beragama. Semoga FKUB dan seluruh tokoh agama yang hadir senantiasa menjadi wadah terciptanya kerukunan di tengah masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan pesan sederhana yang menurutnya memiliki makna mendalam dalam kehidupan bersama.

“Saya begini, kamu begitu, kita berbeda, tapi sama.”

Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa setiap manusia dapat memiliki keyakinan dan cara hidup yang berbeda, namun tetap memiliki kedudukan yang sama sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa Indonesia.

Sementara itu, Pembimas Katolik Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jambi, Theresia Ari Sukarni, S.Ag., mengapresiasi keterlibatan berbagai unsur dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, pertemuan yang diikuti lebih dari 100 peserta itu menjadi momentum penting untuk membangun jejaring dan memperkuat kemitraan lintas agama melalui program moderasi beragama.

“Kami mengapresiasi kegiatan ini, yang dihadiri oleh berbagai agama, tokoh agama, masyarakat, dan ormas. Mengingat situasi saat ini, penting sekali untuk membangun jejaring mitra kerja melalui program moderasi beragama,” kata Theresia.

Ia menegaskan, langkah membangun komunikasi lintas agama sangat penting dalam memperkuat persatuan dan kesatuan, terutama di kalangan generasi muda yang tumbuh dalam lingkungan masyarakat yang beragam.

Usai dialog dan sesi tanya jawab, suasana semakin cair ketika para peserta mengikuti “Ngopi Kerukunan”. Tidak ada sekat yang membedakan. Para tokoh agama, pemuda, masyarakat, dan perwakilan organisasi duduk bersama, berbincang, dan menikmati secangkir kopi dalam suasana penuh keakraban.

Kopi menjadi simbol sederhana dari perjumpaan itu. Secangkir kopi mungkin hanya sebuah minuman, tetapi kebersamaan yang lahir di sekelilingnya dapat menjadi jembatan untuk saling mengenal dan memahami.

Pada penghujung kegiatan, Bimas Katolik Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jambi memberikan cendera mata kepada sejumlah tokoh dan perwakilan yang hadir sebagai bentuk penghargaan atas partisipasi serta dukungan dalam membangun kerukunan.

Pemberian cendera mata kemudian dilanjutkan dengan foto bersama, ramah tamah, dan makan siang. Suasana hangat tetap terasa hingga kegiatan berakhir.

Melalui dialog tersebut, pesan yang dibawa pulang bukanlah tentang siapa yang paling benar atau siapa yang paling berbeda. Pesannya jauh lebih sederhana: bahwa kehidupan akan terasa lebih damai ketika setiap orang mampu menghormati keyakinan orang lain.

Satu bumi menjadi tempat kita bersama. Secangkir kopi menjadi ruang untuk berjumpa. Dan toleransi menjadi jembatan yang menjaga persaudaraan.

Dari Jambi, semangat itu terus dirawat agar perbedaan tidak menjadi alasan untuk saling menjauh, tetapi menjadi kesempatan untuk saling mengenal, menghargai, dan berjalan bersama dalam kedamaian.

 

SRTV Jambi

Recent Articles

Popular Articles