Jeritan Abdi Negara di Musi Banyuasin: Saat Gaji Tertahan Menyeret ASN dan PPPK ke Pusaran Utang

Ekonomi 15 Aug 2026 17:05 3 min read 3 views By admin

Share berita ini

Jeritan Abdi Negara di Musi Banyuasin: Saat Gaji Tertahan Menyeret ASN dan PPPK ke Pusaran Utang
Kondisi ekonomi yang menghimpit ini perlahan melumpuhkan ruang gerak mereka. Tak sedikit pegawai yang akhirnya terseret ke dalam jurang nestapa, terjerat oleh bujuk rayu pinjaman online (pinjol).

SRTV-Di balik seragam yang rapi dan senyuman yang terpaksa disunggingkan saat melayani masyarakat, tersimpan badai keputusasaan yang hebat di dada ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) serta Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). Alih-alih merasakan ketenangan finansial sebagai abdi negara, hari-hari mereka kini diwarnai deru cemas memikirkan dapur yang terancam padam. Tumpuan hidup mereka goyah setelah Gaji ke-13 tak kunjung menemui kejelasan pencairan, ditambah Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) yang baru dibayarkan selama dua bulan.

Kondisi ekonomi yang menghimpit ini perlahan melumpuhkan ruang gerak mereka. Tak sedikit pegawai yang akhirnya terseret ke dalam jurang nestapa, terjerat oleh bujuk rayu pinjaman online (pinjol) ilegal hingga harus merelakan sisa barang berharga terakhir yang mereka miliki demi sekadar menyambung hidup.

 

Pengakuan Pahit di Titik Terendah

Raut wajah lelah dan sorot mata kosong tampak jelas pada diri SN, seorang ASN di Kabupaten Muba. Ia tak lagi mampu menutupi beban berat yang menghimpit pundaknya. Bagi SN, masa-masa sekarang adalah fase terendah dalam perjalanan hidupnya, di mana ia harus memutar otak tanpa henti setiap hari hanya demi memastikan keluarganya bisa makan.

Dengan suara bergetar dan dada yang sesak, SN menuturkan kepedihannya:

"Jujur saja, saya betul-betul berada di posisi yang sangat sulit saat ini. Gaji ke-13 belum dibayar, ditambah TPP yang baru cair dua bulan, ini jadi penderitaan tersendiri bagi kami."

Langkah nekat terpaksa ia ambil. SN mengakui dirinya kini telah menjadi korban keganasan jeratan pinjaman online. Keputusan pahit tersebut tidak dilandasi oleh gaya hidup hedonis, melainkan didorong oleh keterpaksaan yang mutlak demi memastikan asap di dapur rumah tangganya tetap mengebul dan anak-anaknya tidak kelaparan.

Beban hidup itu kian menumpuk dan menyesakkan dada lantaran mayoritas Surat Keterangan (SK) pengangkatan, baik bagi ASN maupun PPPK di Muba, telah lama digadaikan ke bank demi memenuhi kebutuhan masa lalu. Akibatnya, sisa gaji bulanan yang mendarat di rekening mereka setiap tanggal penerimaan tinggal hitungan angka yang mengenaskan, bahkan ludes dalam sekejap dan tak mampu bertahan hingga pertengahan bulan. Harapan terbesar mereka selama ini tertumpu sepenuhnya pada pencairan TPP dan Gaji ke-13. Ketika hak-hak normatif tersebut tertahan tanpa kepastian, tiada lagi jalan keluar selain menjual harta benda atau berutang pada lubang yang salah.

 

Teror Pinjol dan Air Mata Seorang Pegawai PPPK

Nasib tragis serupa turut merajam hari-hari SI, seorang pegawai PPPK di Kabupaten Muba. Alih-alih bisa bernapas lega setelah mengabdikan diri bagi daerah, hari-harinya kini berubah menjadi teror psikologis yang mencekam akibat gelombang tagihan dan ancaman dari aplikasi pinjaman online yang terus mendatangkan rasa takut. Dengan isak tangis yang tertahan, SI menceritakan awal mula musibah finansial yang menjerat lehernya:

"Kemarin saya nekat ambil pinjaman online untuk belikan baju sekolah anak. Saya berani ambil risiko itu karena ada angin segar katanya awal Juli Gaji ke-13 bakal cair."

Janji manis pencairan yang bertepuk sebelah tangan kini berbuah petaka. Di tengah himpitan ekonomi yang kian mencekik, para abdi negara di Muba ini hanya bisa berharap uluran tangan.

 

*(Sumber: [📰/mubaonline.id]) & Ig:sekayuakandatang)

Diubah sepenuhnya dalam bentuk cerita naratif

SRTV Jambi

Recent Articles

Popular Articles