Bencana Asap dan Erupsi Meluas: Sekolah Diliburkan, Penerbangan Batal, Harga Masker Melambung
Jakarta-Kombinasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di Kalimantan, Palembang, dan Jambi, serta erupsi Gunung Anak Krakatau memicu dampak ganda yang melumpuhkan berbagai sektor vital. Paparan asap pekat dan abu vulkanik tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga memaksa sejumlah sekolah mengalihkan kegiatan belajar ke sistem jarak jauh demi menekan risiko penyakit saluran pernapasan seperti ISPA dan asma. Di saat yang sama, sektor penerbangan terpaksa membatalkan sejumlah penerbangan akibat jarak pandang yang minim dan potensi bahaya material vulkanik bagi mesin pesawat.
Kondisi krisis ini secara bersamaan memicu lonjakan permintaan alat pelindung diri yang langsung berdampak pada dinamika ekonomi masyarakat. Di tingkat pedagang eceran, harga masker medis hingga tipe respirator (N95, KN95, dan KF94) melambung drastis hingga 10 kali lipat dari harga normal, baik di toko fisik maupun platform e-commerce. Selain lonjakan harga, konsumen juga mengeluhkan kelangkaan barang hingga praktik pembatalan transaksi secara sepihak oleh penjual daring saat pesanan telah diproses.
"Berkenaan dengan beredarnya isu kelangkaan stok dan kenaikan harga masker di pasaran pasca letusan Gunung Anak Krakatau, saat ini memang terjadi kenaikan harga di beberapa toko offline maupun online. Kelangkaan stok masker hanya terjadi di sejumlah tempat di tingkat penjual eceran, sementara stok di tingkat produsen dan distributor masih mencukupi," terang Kepala Biro Komunikasi Kemenkes, Aji Muhawarman, Selasa (8/9/2026).
Sisi kesehatan masyarakat makin disorot mengingat pentingnya penggunaan dan penggantian masker secara disiplin di tengah kepungan asap dan abu. Dokter spesialis paru RSUP Persahabatan, Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), mengingatkan agar masker tidak dipakai terlalu lama karena uap air pernapasan dapat membuatnya lembap dan menurunkan efektivitas filtrasi. Ia menyarankan agar masker, termasuk tipe N95 yang digunakan untuk aktivitas luar ruang selama enam hingga delapan jam, dapat diganti secara berkala demi menjaga perlindungan paru-paru secara optimal.
"Masker yang digunakan dalam waktu lama dapat menjadi lembap akibat uap air dari pernapasan sehingga efektivitas dan kenyamanannya dapat berkurang. Masker N95 yang digunakan untuk aktivitas di luar ruangan selama enam hingga delapan jam juga perlu diganti," ujar Dokter Spesialis Paru RSUP Persahabatan, Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K).
Merespons anomali harga dan isu kelangkaan tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) memastikan bahwa kendala ketersediaan barang sejatinya hanya terjadi di rantai distribusi hilir atau tingkat pengecer. Kepala Biro Komunikasi Kemenkes, Aji Muhawarman, menegaskan pada Selasa (8/9/2026) bahwa stok masker di tingkat produsen dan distributor masih sangat mencukupi. Kemenkes pun mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan menjelaskan bahwa masker medis biasa tetap bisa dijadikan alternatif perlindungan yang memadai jika masker tipe respirator sulit didapatkan di pasaran.
Related Articles