Menatap Asa di Tengah Tantangan: Menakar Peluang UMKM dalam Gelaran Indonesia Shopping Festival 2026

Ekonomi 08 Aug 2026 21:43 2 min read 8 views By Bembenk

Share berita ini

Menatap Asa di Tengah Tantangan: Menakar Peluang UMKM dalam Gelaran Indonesia Shopping Festival 2026
SRTV Jambi- Ketua Umum Asosiasi Industri Usaha Mikro Kecil dan Menengah Indonesia (AKUMANDIRI), Hermawati Setyorinny, menilai bahwa target Rp 38 triliun tersebut menyimpan tantangan yang tidak ringan.

Penyelenggaraan Indonesia Shopping Festival (ISF) 2026 yang resmi bergulir pada 7 hingga 23 Agustus 2026 membawa sebuah misi besar: mengail transaksi hingga menyentuh angka Rp 38 triliun. Di atas kertas, angka ini ditopang oleh keterlibatan ratusan pusat perbelanjaan serta deretan program promosi yang masif. Namun, di balik kemeriahan festival belanja tahunan ini, sebuah catatan penting mengemuka dari para pelaku industri kerakyatan.

Ketua Umum Asosiasi Industri Usaha Mikro Kecil dan Menengah Indonesia (AKUMANDIRI), Hermawati Setyorinny, menilai bahwa target fantastis tersebut menyimpan tantangan yang tidak ringan. Dinamika daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih menjadi ujian tersendiri bagi ketahanan penjualan para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di pasar domestik.

"Kalau melihat kondisi sekarang, target itu cukup berat. Daya beli masyarakat masih turun sehingga pelaku UMKM juga masih kesulitan meningkatkan penjualan," ungkap Hermawati saat dihubungi pada Jumat (7/8/2026).

Kendati dihadapkan pada tekanan pasar, momentum ISF 2026 tetap menyimpan potensi besar untuk digarap secara strategis. Hermawati menegaskan bahwa kunci utama untuk mengoptimalkan potensi tersebut terletak pada keberpihakan nyata kepada produk dalam negeri. Pemerintah bersama para pemangku kepentingan dinilai perlu memperluas porsi bagi produk lokal dalam setiap agenda promosi maupun festival belanja. Langkah ini dipandang esensial agar gairah belanja masyarakat tidak hanya berhenti pada angka statistik, melainkan benar-benar menjadi angin segar yang menghidupkan dapur produksi UMKM nasional.

Selain persoalan daya beli, catatan krusial lainnya adalah aspek sosialisasi. Hermawati menyoroti masih terbatasnya informasi mengenai Indonesia Shopping Festival di kalangan akar rumput pelaku usaha. Akibat kondisi ini, sebagian UMKM belum sepenuhnya memahami skema program maupun manfaat strategis yang dapat mereka raih dari perhelatan tersebut. Kondisi ini membuat tingkat partisipasi UMKM belum mencapai titik optimalnya. Padahal, pelibatan ekosistem usaha lokal dalam skala yang lebih luas diyakini mampu menciptakan efek ganda (multiplier effect) yang jauh lebih signifikan bagi perekonomian domestik.

Dengan sisa waktu penyelenggaraan ISF 2026 yang tengah berjalan, sinergi lintas sektor menjadi kunci penentu. Perluasan ruang promosi, penguatan sosialisasi, serta komitmen untuk mengedepankan produk lokal diharapkan mampu mengubah tantangan menjadi peluang emas. Pada akhirnya, suksesnya target Rp 38 triliun bukan sekadar tentang seberapa besar nominal transaksi yang tercipta, tetapi tentang bagaimana gelaran ini mampu merangkul dan mengangkat eksistensi UMKM agar terus berdaya di negeri sendiri.

SRTV Jambi